Published by Heber-b50105016, 15November 2009 di 13.20
Difusi inovasi menurut Rogers(1962-1995), Sebuah proses dimana inovasi difusi dikomunikasikan dalam kurun waktu tertentu, pada anggota sistem sosial tertentu suatu tata hubungan antara inividu dengan individu lain. Tingkatan adopsi yang dijelaskan lebih terperinci oleh Rogers adalah sebagai berikut :
Inovator, Seseorang yang menyukai hal-hal baru Senang bereksperimen , biasanya inovator memiliki kedudukan penting dalam masyarakat atau biasanya seorang pemimpin yang memiliki pengaruh terhadap masyarakat. Sekitar 2,5% individu yang pertama kali mengadopsi inovasi. Cirinya: petualang, berani mengambil resiko, mobile, cerdas, kemampuan ekonomi tinggi.
Early adopters, Seseorang yang cepat menerima suatu Inovasi, Cerdas. Ia merupakan seseorang yang selalu mempertimbangkan sebuah keputusannya berfikir kritis setelah ia telah memutuskan suatu keputusannya maka keputusan tersebut sudah benar-benar diyakini dan mantap untuk segera diaplikasikan. Early adopter ini merupakan seseorang pemimpin yang memiliki tanggung jawab penuh atas semua keputusannya karena hal ini dapat berpangaruh pada pengikutnya. 13,5% yang menjadi para perintis dalam penerimaan inovasi. Cirinya: para teladan (pemuka pendapat), orang yang dihormati, akses di dalam tinggi.
Early Majority, Seseorang yang cerdas, terbuka terhadap hal- hal yang baru tetapi tidak terlalu berfikir kritis dan mempertimbangkan. Segala sesuatunya ia hanya berfikir sisi positifnya saja / dapat dikatakan selalu mengikuti trend terbaru. Ia bukan seorang pemimpin tetapi pengikut yang senang dengan hal-hal baru. 34% yang menjadi pera pengikut awal. Cirinya: penuh pertimbangan, interaksi internal tinggi.
Late Majority, Seseorang yang selalu diikuti dengan rasa curiga / skeptics, serlalu memikirkan kesulitan –kesulitan sesuatu inovasi, mereka tergolong orang- orang yang telat terhadap munculnya suatu inovasi , jika sudah banyak masyarakat menggunaan inovasi tersebut dan terbukti baik dan aman untuk digunakan maka akhirnya ia baru ikut menggunakan inovasi tersebut. 34% yang menjadi pengikut akhir dalam penerimaan inovasi. Cirinya: skeptis, menerima karena pertimbangan ekonomi atau tekanan social, terlalu hati-hati.
Laggards/avoiders, Sesorang yang bersikap tertutup terhadap hal-hal yang baru. Dapat dikatakan seseorang yang fanatik terhadap cara-cara yang sudah ada sebelumnya(cara lama) senang dengan cara-cara lama, terlalu kriktis terhadap hal-hal baru, tidak antusias menggunakan teknologi yang baru, dan ia akan menggunakan / mengikuti sebuah inovasi jika adanya suatu tekanan dan semua orang sudah lama menggunakannya. 16% terakhir adalah kaum kolot/tradisional. Cirinya: tradisional, terisolasi, wawasan terbatas, bukan opinion leaders, sumberdaya terbatas.
Diposkan oleh heber-b50105016.
Rabu, 28 Oktober 2009
Info TIK telah beredar d majalah PC Plus edisi 344, tips n trik desan majalah sendiri dgn aplikasi Scribus.
Dalam upaya memperoleh pemahaman mengenai ilmu dan teori komunikasi, maka di awal pembahasan yang perlu kita pahami bersama adalah pemahaman mengenai apa itu ilmu secara umum. Banyak sekali pengertian yang bisa dikemukakan mengenai ilmu. Di bawah ini akan diuraikan beberapa pengertian yang mencerminkan indikasi sebuah ilmu.
1.Ilmu adalah pengetahuan yang bersifat umum dan sistematis, pengetahuan dari mana dapat disimpulkan dalil-dalil tertentu menurut kaidah-kaidah umum. (Nazir, 1988)
2.Konsepsi ilmu pada dasarnya mencakup tiga hal, yaitu adanya rasionalitas, dapat digeneralisasi dan dapat disistematisasi (Shapere, 1974)
3.Pengertian ilmu mencakup logika, adanya interpretasi subjektif dan konsistensi dengan realitas sosial (Schulz, 1962)
4.Ilmu tidak hanya merupakan satu pengetahuan yang terhimpun secara sistematis, tetapi juga merupakan suatu metodologi (Tan, 1954)
Dari empat pengertian di atas dapatlah disimpulkan bahwa ilmu pada dasarnya adalah pengetahuan tentang sesuatu hal atau fenomena, baik yang menyangkut alam atau sosial (kehidupan masyarakat), yang diperoleh manusia melalui proses berfikir. Itu artinya bahwa setiap ilmu merupakan pengetahun tentang sesuatu yang menjadi objek kajian dari ilmu terkait.
Pengertian ilmu identik dengan dunia ilmiah, karenanya ilmu mengindikasikan tiga ciri:
1.Ilmu harus merupakan suatu pengetahuan yang didasarkan pada logika.
2.Ilmu harus terorganisasikan secara sistematis.
3.Ilmu harus berlaku umum.
PENGERTIAN MENGENAI ILMU KOMUNIKASI
Pengertian mengenai ilmu komunikasi, pada dasarnya mempunyai ciri yang sama dengan pengertian ilmu secara umum. Yang membedakan adalah objek kajiannya, di mana perhatian dan telaah difokuskan pada peristiwa-peristiwa komunikasi antar manusia. Mengenai hal itu Berger & Chafee (1987) menyatakan bahwa Ilmu komunikasi adalah suatu pengamatan terhadap produksi, proses dan pengaruh dari sistem-sistem tanda dan lambang melalui pengembangan teori-teori yang dapat diuji dan digeneralisasikan dengan tujuan menjelaskan fenomena yang berkaitan dengan produksi, proses dan pengaruh dari sistem-sistem tanda dan lambang.
Pengertian di atas memberikan tiga pokok pikiran:
1.Objek pengamatan yang jadi fokus perhatian dalam ilmu komunikasi adalah produksi, proses dan pengaruh dari sistem-sistem tanda dan lambang dalam konteks kehidupan manusia.
2.Ilmu komunikasi bersifat ilmiah empiris (scientific) dalam arti pokok-pokok pikiran dalam ilmu komunikasi (dalam bentuk teori-teori) harus berlaku umum.
3.Ilmu komunikasi bertujuan menjelaskan fenomena sosial yang berkaitan dengan produksi, proses dan pengaruh dari sistem tanda dan lambang.
Sehingga secara umum ilmu komunikasi adalah pengetahuan tentang peristiwa komunikasi yang diperoleh melalui suatu penelitian tentang sistem, proses, dan pengaruhnya yang dapat dilakukan secara rasional dan sistematis, serta kebenarannya dapat diuji dan digeneralisasikan.
PENGERTIAN MENGENAI TEORI KOMUNIKASI
Secara umum istilah teori dalam ilmu sosial mengandung beberapa pengertian sebagai berikut:
1.Teori adalah abstraksi dari realitas.
2.Teori terdiri dari sekumpulan prinsip dan defenisi yang secara konseptual mengorganisasikan aspek-aspek dunia empiris secara sistematis.
3.Teori terdiri dari asumsi-asumsi, proposisi-proposisi, dan aksioma-aksioma dasar yang saling berkaitan.
4.Teori terdiri dari teorema-teorema yakni generalisasi-generalisasi yang diterima/terbukti secara empiris.
Dari unsur di atas dapat disimpulkan bahwa teori pada dasarnya merupakan konseptualisasi atau penjelasan logis dan empirik tentang suatu fenomena. Bentuknya merupakan pernyataan-pernyataan yang berupa kesimpulan tentang suatu fenomena.
Teori memiliki dua ciri umum:
1.Semua teori adalah “abstraksi� tentang sesuatu hal, yang berarti suatu teori bersifat terbatas.
2.Semua teori adalah konstruski ciptaan individual manusia. Oleh karena itu sifatnya relatif dalam arti tergantung pada cara pandang sipencipta teori, sifat dan aspek yang diamati, serta kondisi-kondisi lain yang mengikat seperti waktu, tempat dan lingkungan sekitarnya.
Jadi berdasarkan hal di atas teori komunikasi adalah konseptualisasi atau penjelasan logis tentang fenomena peristiwa komunikasi dalam kehidupan manusia.
PENJELASAN DALAM TEORI
Penjelasan dalam teori tidak hanya menyangkut penyebutan nama dan pendefenisian variable-variabel, tetapi juga mengidentifikasikan keberaturan hubungan diantara variable. Menurut Litlejohn (1987), penjelasan dalam teori berdasarkan pada “prinsip keperluan� (the principle of necessity) yakni suatu penjelasan yang menerangkan variable-variabel apa yang mungkin diperlukan untuk menjelaskan atau menghasilkan sesuatu. Misalnya untuk menghasilkan variable X, mungkin diperlukan variable Y dan Z. selanjutnya dijelaskan pula bahwa prinsip ini terdiri dari 3 macam, yaitu:
1.Causal necessity (keperluan kausal). Berdasarkan pada azas sebab-akibat. Misalnya karena ada X dan Z maka ada Y.
2.Practical necessity (keperluan praktis). Mengacu pada hubungan tindakan-konsekuensi. Menurut prinsip ini X dan Z memang bertujuan untuk, atau praktis untuk menghasilkan Y.
3.Logical necessity (keperluan logis). Prinsip ini berdasarkan asas konsistensi logis. Artinya X dan Z secara konsisten dan logis akan selalu menghasilkan Y.
SIFAT & TUJUAN TEORI
Menurut Abraham Kaplan (1964) sifat dan tujuan teori bukan semata-mata untuk menemukan fakta yang tersembunyi, tetapi juga suatu cara untuk melilhat fakta, mengorganisasikan serta merepresentasikan fakta tersebut. Karenanya teori yang baik adalah teori yang konseptualisasi dan penjelasannya didukung oleh fakta serta dapat diterapkan dalam kehidupan nyata. Bila sebaliknya, maka teori demikian tergolong teori semu. Jadi teori yang baik harus memenuhi kedua unsure tersebut:
1.Teori yang sesuai dengan realitas kehidupan
2.Teori yang konseptualisasi dan penjelasannya didukung oleh fakta serta dapat diterapkan dalam kehidupan yang nyata.
FUNGSI TEORI
Mengenai fungsi teori, secara rinci Littlejohn menyatakan 9 fungsi dari teori:
1.Mengorganisasikan dan menyimpulkan pengetahuan tentang suatu hal. Ini berarti bahwa dalam mengamati realitas kita tidak boleh melakukan secara sepotong-sepotong. Kita perlu mengorganisasikan dan mensintesiskan hal-hal yang terjadi dalam kehidupan nyata. Pola-pola dan hubungan-hubungan harus dapat dicari dan ditemukan. Pengetahuan yang diperoleh dari pola atau hubungan itu kemudian disimpulkan. Hasilnya (berupa teori) akan dapat dipakai sebagai rujukan atau dasar bagi upaya-upaya studi berikutnya.
2.Memfokuskan. Teori pada dasarnya menjelaskan tentang sesuatu hal, bukan banyak hal.
3.Menjelaskan. Teori harus mampu membuat suatu penjelasan tentang hal yang diamatinya. Misalnya mampu menjelaskan pola-pola hubungan dan menginterpretasikan peristiwa-peristiwa tertentu.
4.Pengamatan. Teori tidak sekedar memberi penjelasan, tapi juga memberikan petunjuk bagaimana cara mengamatinya, berupa konsep-konsep operasional yang akan dijadikan patokan ketika mengamati hal-hal rinci yang berkaitan dengan elaborasi teori.
5.Membuat predikasi. Meskipun kejadian yang diamati berlaku pada masa lalu, namun berdasarkan data dan hasil pengamatan ini harus dibuat suatu perkiraan tentang keadaan yang bakal terjadi apabila hal-hal yang digambarkan oleh teori juga tercermin dalam kehidupan di masa sekarang. Fungsi prediksi ini terutama sekali penting bagi bidang-bidang kajian komunikasi terapan seperti persuasi dan perubahan sikap, komunikasi dalam organisasi, dinamika kelompok kecil, periklanan, public relations dan media massa.
6.Fungsi heuristik atau heurisme. Artinya bahwa teori yang baik harus mampu merangsang penelitian selanjutnya. Hal ini dapat terjadi apabila konsep dan penjelasan teori cukup jelas dan operasional sehingga dapat dijadikan pegangan bagi penelitian-penelitian selanjutnya.
7.Komunikasi. Teori tidak harus menjadi monopoli penciptanya. Teori harus dipublikasikan, didiskusikan dan terbuka terhadap kritikan-kritikan, yang memungkinkan untuk menyempurnakan teori. Dengan cara ini maka modifikasi dan upaya penyempurnaan teori akan dapat dilakukan.
8.Fungsi kontrol yang bersifat normatif. Asumsi-asumsi teori dapat berkembang menjadi nilai-nilai atau norma-norma yang dipegang dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, teori dapat berfungsi sebagai sarana pengendali atau pengontrol tingkah laku kehidupan manusia.
9.Generatif. Fungsi ini terutama menonjol di kalangan pendukung aliran interpretif dan kritis. Menurut aliran ini, teori juga berfungsi sebagai sarana perubahan sosial dan kultural serta sarana untuk menciptakan pola dan cara kehidupan yang baru.
PENGEMBANGAN TEORI
Proses pengembangan atau pembentukan teori umumnya mengikuti model pendekatan eksperimental yang lazim dipergunakan dalam ilmu pengetahuan alam. Menurut pendekatan ini, biasa disebut Hyphotetif-deductive method, proses pengembangan teori melibatkan empat tahap sebagai berikut:
a.Asumsi-asumsi teori dideduksi menjadi hipotesis. Asumsi disusun berdasarkan suatu teori yang kemudian digunakan sebagai landasan pikir dalam menganalisa suatu fenomena yang menjadi objek pengamatan kita. Hipotesa merupakan asumsi atau dugaan sementara terhadap hal yang diamati yang berupa suatu pernyataan yang terdiri dari sejumlah konsep atau variabel.
b.Hipotesis dirinci lagi ke dalam konsep-konsep operasional (variabel) yang dapat dijadikan sebagai patokan untuk pengamatan/observasi. Berdasarkan itu dibuat parameter penelitian dan instrumen penelitian, contohnya quesioner.
c.Hasil-hasil temuan dari pengamatan yang dilakukan melalui metode dan pengukuran tertentu kemudian dibuat generalisasi yang akhirnya diinduksi menjadi teori.
Ada beberapa patokan yang dapat dijadikan sebagai tolok ukur dalam mengevaluasi kesahihan teori:
·Cakupan teoritis (theoritical scope). Teori yang dibangun harus memiliki keberlakuan umum. Artinya dapat dijadikan standar untuk mengamati fenomena yang berkaitan dengan teori tersebut.
·Kesesuaian (appropriatness). Apakah isi teori sesuai dengan pertanyaan-pertanyaan atau permasalahan teoritis yang diteliti. Artinya landasan pikirnya dapat memberikan cara yang sesuai dan benar untuk menjawab pertanyaan penelitian.
·Heuristic. Apakah suatu teori yang dibentuk punya potensi untuk menghasilkan penelitian atau teori-teori lainnya yang berkaitan. Sebagaimana telah dijelaskan diawal suatu teori merupakan hasil konstruksi atau ciptaan manusia, maka suatu teori sangat terbuka untuk diperbaiki.
·Validity. Konsistensi internal dan eksternal. Artinya memiliki nilai-nilai objektivitas yang akurat, karena teori merupakan suatu acuan berpikir. Konsistensi internal mempersoalkan apakah konsep dan penjelasan teori konsisten dengan pengamatan, sementara itu konsistensi eksternal mempertanyakan apakah teori yang dibentuk didukung oleh teori-teori lainnya yang telah ada.
·Parsimony. Kesederhanaan, artinya teori yang baik adalah teori yang berisikan penjelasan-penjelasan yang sederhana.
Setiap upaya perencanaan kreatif dalam periklanan selalu didahului dengan proses kreatif daiam arti proses penciptaan ide-ide / gagasan kreatif iklan. Proses ini pada dasarnya adalah proses berpikir kreatif.
Kreativitas seringkali dianggap sebagai sesuatu ketrampilan yang didasarkan pada bakat alam, dimana hanya mereka yang berbakat saja yang bisa menjadi kreatif, Anggapan ini tidak sepenuhnya benar, walaupun memang dalam kenyataannya terlihat bahwa orang-orang tertentu memiliki kemampuan untuk menciptakan ide-ide baru dengan cepat dan beragam.
Namun demikian, sesungguhnya kemampuan berpikir kreatif pada dasarnya dimiliki semua orang. Berpikir kreatif adalah kemampuan untuk menciptakan gagasan-gagasan baru dan orisinil. Bahkan pada orang yang merasa tidak mampu menciptakan ide baru pun sebenarnya bisa berpikir secara kreatif, asalkan dilatih. Untuk itu, perlu diketahui terlebih dahulu mengenai cara berpikir dan cara berpikir kreatif.
Berpikir adalah proses mengolah dan memanipulasikan informasi untuk memenuhi suatu kebutuhan atau memberikan respons. Dalam berpikir seseorang mengolah informasi-informasi yang ada dengan menggunakan lambang-lambang visual, lambang grafis atau lambang verbal.
Berpikir adalah suatu aktivitas mental. Proses berpikir manusia memiliki dua ciri utama, yaitu :
1. Covert / unobservable (tidak terlihat).
Proses berpikir terjadi pada otak manusia dan secara fisik tidak dapat dilihat prosesnya (dalam pengertian pemrosesan informasinya). Sejumlah ahli yang mencoba memantau proses berpikir secara fisik hanya menemukan aktivitas listrik arus lemah dan proses kimiawi pada otak manusia yang sedang berpikir.
Dengan demikian, proses pengolahan informasi tak dapat diamati dan dilihat secara fisik maupun secara kimiawi. Pengolahan makna, baik semantic maupun visual bersifat abstrak sehingga tidak dapat dideteks denan panca indera.
2. Symbolic (melibatkan manipulasi dan penggunaan simbol)
Dalam berpikir, manusia mengolah (memanipulasikan) informasi yang berupa symbol-simbol, (baik symbol verbal maupun visual). Simbol-simbol itu akan memberikan makna pada informasi yang diolah.
Human relations merupakan salah satu unsure penting bagi keberhasilan komunikasi baik dalam komunikasi antar personal maupun dalam komunikasi kelompok dan dalam public relations. Bahkan human relations juga sangat penting bagi seorang pemimpin yang sehari-harinya banyak melakukan komunikasi baik vertical maupun horizontal.
Di dalam pergaulan sehari-hari antara individu dengan individu, baik dalam lingkungan kecil maupun lingkungan besar human relations merupakan factor penting.
Di Negara-negara yang sudah maju human relations semakin mendapat perhatian para manajer dalam organisasi apapun, karena semakin diasakan pentingnya dalam rangka memecahkan berbagai masalah yang menyangkut factor manusia dalam manajemen.
Benturan-benturan psikologis dan konfli-konflik antara kepentingan pribadi dan kepentingan organisasi sering terjadi. Bukan saja antara manajer dengan karyawan tetapi juga antara karyawan dengan karyawan, yang benar-benar mengganggu jalannya roda organisasi dalam mencapai tujuannya.
Human relations juga dirasakan pentingnya oleh para manajer untuk menghilangkan luka-luka aibat salah komunikasi (mis-communication) dan salah interpretasi (mis-interpretation) yang terjadi antar manajer beserta karyawannya dengan public di luar organisasi.
Ciri hakiki human relations bukan “human” dalam pengertian wujud manusia (human being), melainkan dalam makna proses rohaniah yang tertuju pada kebahagiaan berdasarkan watak, sifat, perangai, kepribadian, sikap, tingkah laku, dan lain-lain aspek kejiwaan yang terdapat pada diri manusia.
Human relations dapat dilakukan atau terjadi dalam segala situasi dan dalam semua bidang kehidupan serta terhadap siapa saja.
Menurut Keith Davis ada tiga tujuan yang hendak dicapai oleh human relations yaitu mengusahakan agar para pegawai atau pekerja dapat :
1.To cooperate (selalu bekerja sama)
2.To produce ( menghasilkan produksi yang baik)
3.To gain Statisfaction (dapat merasakan kepuasan dalam pekerjaan mereka yang meliputi segi-segi ekonomis, psikologis dan social)
Di tinjau dari segi pimpinan yang bertanggung jawab untuk pemimpin kelompok, human relations adalah interaksi dari orang-orang ke dalam suasana kerja dengan motivasi, mereka akan bekerja bersama-sama secara produktif, cooperative dengan kepuasan, baik mengenai segi-segi ekonominya, maupun psikologisnya dan sosialnya.
Terdapat 3 faktor yang mendasari interaksi manusia dengan manusia lainnya. Ketiga faktor tersebut adalah :
Imitasi adalah tanggapan yang dipelajari, hasil nteraksi, pengaruh lingkungan dan bukan pembawaan sejak lahir. Imitasi tidak selalu bersifat positif. Misalnya sesorang dapat terpengaruh dengan tingkah laku orang lain yang tidak sesuai dengan norma dan aturan-aturan yang ada. Misalnya terpengaruh dari gaya hidup selebritis yang negatif dan dari lungkungan sekitarnya yang tidak sesuai dengan norma hidup masyarakat.
Sugesti
Sugesti diterima seseorang dari orang lain yang mempunyai otoritas, prestise sosila yang tinggi atau ahli dalam lapangan tertentu. Sugesti ini memegang peranan penting dalam hidup kelompok karyawan, karena terdapat orang-orang yang mempunyai otoritas, mempunyai prestise sosial yang tinggi atau yang mempunyai keahlian dalam lapangan tertentu terutam dalam organisasi.
3. Simpati
Simpati adalah perasaan tertariknya seseorang kepada orang lain. Perasaan simpati ini dapat timbul secara tiba-tiba atau secara lambat laun. Timbulnya simpati adalah sebagai proses yang disadari dan timbulnya tidak atas dasar logis rasional melainkan berdasarkan penilaian perasaan. Pada simpati dorongan utama adalah ingin mengerti dan ingin kerjasama dengan orang lain.
Perbedaanya cukup jelas. Imitasi adalah prilaku seseorang untuk ingin sama atau mengikuti sesuatu dari orang lain. Sedangkan sugesti adalah sikap mengajak atau mempengaruhi orang lain. Dan simpati adalah perasaan suka atau tertariknya seseorang kepada orang lain.
·Ciri-ciri adanya Human Relations
·Human Relatuions dalam teori dan praktek
·Gaya Komunikasi
Ciri adanya Human Relations
Ciri adanya Human Relations yaitu hubungan kerja yang baik dalam suatu kantor dapat dilakukan dengan dengan cara antara lain :
a.Mengupayakan agar hubungan di dalam kantor atau lembaga jangan terlalu kaku, jangan terlalu formal sehingga menimbulkan jarak tang terlalu jauh antara sesama karyawan, antara atasan dan bawahan atau sebaliknya.
b.Ciptakan suaana kerja yang menyenangkan
c.Bagilah tugas pekerjaan sesuai dengan bidangnya masing-masing
d.Ediakan perlengkapan yang cukup memadai dengan jenis pekerjaan masing-masing.
e.Berilah kesempatan para karyawan untuk mengembangkan karirnya masing-masing sesuai dengan batas-batas kemampuannya.
·Ada dua Peran Human Relatioins dalam membantu keberhasilan seorang manajer atau pemimpin dalamn melaksanakan tugasnya sehari-hari yaitu :
a.Human Relations sebagai teknik atau alat konseling keberhasilan seorang manajer antara lain di tentukan bagaimana menerapkan Human Relations sebagai alat konseling.
b.Human Relations adalah teknik pendekatan dan melakukan konseling yang banyak digunakan, serta dibagi menjadi 2 macam yaitu :
1.Konseling terarah
Konseling terarah yaitu apabilah dalam proses konseling yang aktif adalah konselor
2.Konseling tak terarah
Apabilah dalam proses yang aktif adalah konseling itu sendiri dan konselor hanya memancing masalah yang dihadapi konselor.
Diamping hal tersebut diatas sepertinya manajer juga menggunakan Human Relations dalam situasi kelompok untuk memecahkan masalah yang timbul dan situasi kerja pada karyawan.
·Gaya Komunikasi
Setiap orang mempunyai kecenderungan tertentu sehubungan dengan orientasi nilainya, ada 4 orientasi nilai yang sangat besar pengaruhnya kepada cara orang berkomunikasi yaitu :
1.Orientasi kepada tindakan
2.Orientasi kepada proses
3.Orientasi kepada orang
4.Orientasi kepada Ide
Batas-batas maksimal untuk dicapai oleh seseorang dalam karirnya yaitu karena manusia kepribadian :
-Kepribadiannya diatur
-Keinginannya diprhatikan
-Kebutuhan yang material dan non material
-Kemampuannya di kembangkan secara teratur.
·Mengembangkan kemampuan bawahan sampai tingkat yang maksimal. Untuk mengembangkan prinsip ini adalah tugas pimpinan untuk mengetahui bakat dan keahlian bawahannya dan pimpinan harus pula mengetahui batas-batas kemampuannya, agar dalam usaha pengembangan kemampuan itu.
·Pekerjaan yang menarik dan penuh tantangan maksudnya adalah seorang yang sungguh-sungguh mau bekerja dan tidak mengarungi pekerjaan yang bersifat rutin.
·Pengakuan dan penghargaan atas pelaksanaan tugas dengan baik, kemungkinan harus capat mengakui dan menghargai pelaksanaan tugas seorang bawahan.
·Alat perlengkapanyang cukup seiring keterlambatan terjadi dalam pelaksanaan tugas
·Setiap orang harus ditempatkan menurut keahliannya dan kecakapannya untuk itu sangat penting bagi seorang pemimpin, untuk mengetahui bakat dan keahlian bawahannya dan juga haru mengetahui batas-batas kemampuan bawahannya.
·Batas jasa harus setimpal dengan jasa yang diberikan setiap organisasi harus memperhatikan hidup yang layak baginya dan keluarganya.
9 Cara untuk memotivasi orang :
1.Pujian : awalilah dengan pujian dan ucapan terimah kasih dengan tulus