Kamis, 14 Oktober 2010

Hakikat dan Fungsi Komunikasi


Sulitlah menyangkali kenyataan bahwa komunikasi salah satu aspek paling luas, penting, lagi kompleks dari keberadaan kita manusia. Sedemikian sehingga, kemampuan berkomunikasilah yang membedakan kita dari makluk ciptaan lain.


Dalam konteks semacam itulah, teori-teori komunikasi tampil, membantu kita menjadi lebih kompeten (pakar) dan adaptive (berkemampuan penyesuaian), memahami dan beradaptasi dengan situasi-situasi kompleks. Teori memperluas persepsi kita, membukakan mata, dan membantu kita menjadi lebih fleksibel serta menjadi seseorang yang mampu melihat objek sederhana dan biasa, yang belum pernah ada seorang pun melihat sebelumnya. Seperti peta atau bagan, demikianlah teori-teori komunikasi menyediakan alat pandang bagi kita, melihat hal-hal baru dan berguna, sesederhana apa pun itu.

Stephen LittleJohn dalam bukunya Theories Of Human Communication (1995) mengatakan, secara umum teori pada dasarnya memiliki ciri yang sama. Pertama, sebagai seperangkat abstraksi, karenanya bukanlah mencakup semua yang dikonseptualisasikannya, ia parsial dan karenanya pula tak bakal ada teori tunggal soal kebenaran. Kedua, sebagai sebuah konstruksi, teori adalah hasil bentukan manusia, bukan Tuhan. Ia menyediakan beragam cara mengamati lingkungan, tetapi dirinya sendiri bukanlah refleksi semua realitas. LittleJohn mengutip Abraham Kaplan yang menyatakan,” pembentukan sebuah teori tidak sekadar untuk menemukan fakta tersembunyi: teori juga adalah jalan atau cara melihat fakta-fakta, yang mengorganisir dan merefresentasikannya...” Selanjutnya, mengutip Standley Deetz “sebuah teori adalah sebuah jalan memandang dan memikirkan dunia ini. Sedemikian, sehingga lebih baik kita ibaratkan sebagai sebuah “lensa” yang digunakan seseorang untuk mengobservasi, lebih dari sekadar sebuah “cermin” atas alam ini.

Onong Uchana Effendy dalam bukunya, Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi (2003) mengutip defenisi teori dari Wilbur Schram. “Teori adalah suatu perangkat pernyataan yang saling berkaitan, pada abstraksi dengan kadar tinggi, dan dari padanya proposisi dapat dihasilkan yang dapat diuji secara ilmiah, dan pada landasannya dapat dilakukan pridiksi mengenai prilaku.” Tentu saja kita perlu awas, defenisi ini hendaknya kita tempatkan pada konteks kajian ilmu komunikasi.

Demikian beragam dan simpang siur pengertian mengenai hakekat dan arti teori, sehingga Aubrey Fisher dalam bukunya berjudul “Perspektive Of Human Communication” (Terj. Indonesia: Teori-teori Komunikasi, 1986) mengakui sendiri kesulitannya. Fisher mengingatkan bahwa bukankah dalam pertanyaan mengenai hakekat dan arti teori itu, terkandung dua pertanyaan: Apa itu Teori? dan Apa fungsi Teori? atau Apa yang (harus) dilakukan teori itu?dan bagaiman teori itu sendiri digunakan?

Arti kamus dari Teori dipakai dalam variasi yang luas. Misalnya seorang detektif swasta dalam serial TV mempunyai suatu “Teori” tentang kasus pembunuhan yang belum terungkap. Teori oleh Detektif menunjukkan dugaan, perkiraan, atau hypotesis. Atau, seorang mahasiswa menganggap teori sebagai lawan dari pelajaran lain yang “praktis dan relevan”

Teori Ilmiah

Tetapi di sini, kita berkepentingan terhadap sebuah teori, dalam arti yang ilmiah. Maka, harusnya ia lebih dari sekadar dugaan, sesuatu yang dipandang tidak praktis, ataupun spekulasi saja. Dalam konteks ilmiah inilah, tampaknya teori melibatkan hal yang lebih banyak lagi. Sebagai hasil dari sebuah metode ilmiah, lahirnya sebuah teori (yang ilmiah) telah melalui proses pranjang. Dimulai dari melakukan penyelidikan dan pemaparan secara objektif, berorintasi masalah, s dipandu hipotesa-hipotesa,berorientasi teori serta bersifat korektif mandiri (self-corective).

Aubrey Fisher mengutip Ernest Nagel (1967:5-6), penggagas theories received view, yang menyarankan perlunya teori dalam setiap pengkajian ilmiah sebagai alternatif dari anggapan umum, yang seringkali tidak tepat dan tidak konsisten. Dalam lapangan ilmiah, ada keharusan dan keinginan agar teori dapat mengorganisasikan pengetahuan dan menyediakan arah bagi peningkatan pengetahuan, dan bukan sekedar untuk bahan pertentangan.

Sumber utama membentuk teori komunikasi adalah Filsafat Ilmu. Para filsuf di bidang ilmu, adalah ahli- ahli filsafat di bidang ilmu yang mengkaji masalah filosofis, yang berhubungan dengan perkembangan teoritis secara umum serta perkembangan teori ilmiah dari suatu disiplin secara khusus. Untuk setiap bidang pengetahuan tertentu, mereka dapat mengorganisasi, mensistematisi pengetahuan yang ada dalam suatu kerangka kerja teoritis, menjelaskan prinsip ilmiah yang telah dikonfrontasi atau diterima secara luas, dan menelusuri perkembangan historis dari prinsip tersebut.
Fisher mengutip Robson (1968:369), sosiolog yang merumuskan kembali kata-kata Lakatos, seorang filsuf ilmu, bahwa sumbangan filsafat ilmu ialah “seakan mengatakan kepada para ilmuwan, apa yang telah mereka lakukan dan mengapa mereka melakukannya setelah mereka melaksanakannya.” selanjutnya (370)”para filsuf ilmu sendiri tampak terpecah-belah dalam hal nasehat apa dan penyuluhan apa yang selayaknya mereka berikan kepada kita.
Selanjutnya, Fisher mengutip Frederick Suppe (1974:4) yang mengatakan” Selama lebih dari 50 tahun, filsafat ilmu telah terlibat dalam suatu pengkajian untuk memperoleh pemahaman filosofis atas teori-teori ilmu, hari ini pun penelitian itu masih berlangsung.” Kajian semacam itu bertujuan memperkaya pemahaman kita tentang komunikasi antar manusia yang mencakup:
• struktur teori
• Bagaimana teori dikaitkan dengan realitas
• Observasi fenomena komunikatif,
• Metode dalam mengobservasi
• Metodologi penelitian komunikasi,
• Mengidentifikasi fenomena komunikatif,
• Menganalisa data dari observasi komunikatif, dst.
• Hakekat teori


Fungsi Teori

Jadi, pertanyaan kita sekarang, seperti apa rupa suatu teori komunikasi itu? Apa ia suatu daftar aksioma yang dirumuskan dalam suatu tatanan kalkulus logika matematis kalkuli? Apakah ia suatu morfologi dan taksonomi yang komprehensip dari fenomena komunikasi? Apakah ia berupa konsep fundamental yang digabungkan menjadi satu dengan daftar hubungan yang menggambarkan keterkaitan satu dengan lainnya?
Menurut Fisher, jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas sering malah menimbulkan pertentangan. Fisher menawarakan, salah satu jalan keluar adalah kita fokus pada fungsi teori, sekaligus melihat bagaimana ilmuwan menggunakan teori.

Stephen LittleJhohn dalam buku Theories On Human Communication (1995) menguraikan fungsi teori itu.

1. Teori mengorganisir/meringkaskan pengetahuan, sehingga kita tidak perlu memulai semua dari awal, kita bisa memulai penyelidikan dari pengetahuan-pengetahuan yang terlah teroganisir dari generalisasi para ilmuan sebelum kita.
 
2. Teori memusatkan perhatian kita pada variable-variabel dan hubungan-hubungan dan bukannya yang lain. Ia seperti peta yang menunjukkan kita wilayah atau bidang observasi.
 
3. Teori mengklarifikasi apa yang diobservasi. Klarifikasi itu tidak saja membantu pengamat memahami hubungan-hubungan tetapi juga memaknai peristiwa-peristiwa spesifik. Teori komunikasi, sejatinya, menyediakan panduan untuk memaknai, menjelaskan, dan memahami kerumitan hubungan manusiawi.
 
4. Teori menawarkan bantuan observasi. Ini masih ada hubungan dengan fungsi focus, tetapi bukan hanya menekankan apa yang diselidiki tetapi juga bagaimana cara menyelidiki. Ini terutama pada teori-teori yang menyediakan defenisi operasional, dengan mana ahli teori memberikan kemungkinan indicator-indikator dari konsep-konsep spesifik. Dengan demikian, dengan mengikuti petunjuk itu, kita dipimpin menyelidiki rincian-rincian yang telah dielaborasi oleh teori.
 
5. Teori berfungsi memprediksi. Fungsi prediksi inilah yang menurut Little John dan banyak lainnya, sebagai fungsi yang paling banyak dipedebatkan sebagai tema tujuan penyelidikan ilmiah. Banyak teori memberi jalan bagi para teoritisi membuat pridiksi hasil dan efek dalam data. Kemampuan prediksi teori ini, sangat penting pad wilayah-wilayah aplikasi serperti persuasi, psikoterapi, komunikasi organisasi, periklanan, public relation, komunikasi pemasaran, dan media massa. Ada beragam teori komunikasi yang menyediakan kita alatbantu untuk mengembangkan keterampilan dan kemampuan di bidang komunikasi.
 
6. Teori berfungsi Heuristik. Ada aksioma umum bahwa teori yang baik menghasilkan penyelidikan-penyelidikan lanjutan. Spekulasi-spekulasi yang diajukan kepada teori komunikasi sering kali menyediakan panduan arah mana riset dilakukan, dan karenanya menjadi alatbantu penyelidikan. Fungsi heuristic alatbantu penyelidikan sangatlah vital bagi pengembangan ilmu dan dalam arti tertentu merupakan akibat dari berkembangnya fungsi-fungsi teori lainnya. Fungsi ini masih terus diperdebatkan juga. Intinya kritik bahwa fungsi ini seringkali justru diabaikan, dan justru berfokus pada fungsi justifikasi atau pengujian hypotesis
 
7. Teori berfungsi komunikatif. Setiap peneliti dan toritisi ingin dan membutuhkan publikasi hasil-hasil observasi dan spekulasi mereka untuk pihak-pihak yang berminat. Teori menyediakan kerangka kerja untuk proses komunikasi ini dengan menyediakan forum terbuka untuk perdebatan, diskusi dan kritisi. Melalui komunikasi beragam penjelasan-penjelasan mengenai topic study kita, perbandingan dan pengembangan-pengembangan dimungkinkan.
 
8. Teori berfungsi Kontrol. Fungsi ini terkait dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai penilaian efektifitas, dan kelayakan suatu sikap tertentu. Teori demikian sering dihubungkan dengan teori normative, yang mencari ferforma norma-norma yang mapan. Tentu saja banyak teori, yang tidak berupaya memenuhi fungsi ini, tetapi banyak teoritisi yakin bahwa semua teori pada dasarnya berorientasi nilai dan control, bahwkan ketika teoritisinya tidak bermaksud demikain.
 
9. Teori berfungsi generative. Fungsi ini sangat relevan dengan tradisi interpretative dan kritis, serta paradikma alternative dalam ilmu social. Singkatnya, berarti menggunakan teori untuk menantang cara hidup yang sudah ada, dan untuk memunculkan cara hidup baru – fungsi teori untuk meraih perubahan. Menurut Kenet Gergen, “ kemampuan untuk menantang asumsi-asumsi yang telah menjadi panduan dalam masyarakat, memunculkan pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan social terkini, memacu pertimbangan tentang apa yang "taken for granted”, dan karenanya untuk memunculkan alternative-alternative segar bagi tindakan social.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar