Rabu, 14 Oktober 2009

Filsafat Komunikasi

Epistemologi

1. Pertumbuhan Pengetahuan Manusia

Hakikatnya, untuk memahami pertumbuhan pengetahuan ilmu dapat dilakukan dengan menelusuri secara historis upaya pencarian dan penemuan pengetahuan

· Zaman Yunani Kuno (Abad 6-4 SM)

Ini masa awal pencarian pengetahuan manusia secara kritis. Manusia menciptakan mitos, ini merupakan alasan yang mudah diterima guna menjelaskan keingintahuan manusia atas alam ketika itu. Kemudian sejumlah filosofi lahir, berupaya menggeser pengetahuan dari mitos ke logos, dari sesuatu yang mitis ke logis. Para filsuf itu antara lain Thales, Anaximenes, Plato, Aristoteles, Phytagoras, hingga Hypocrates. Mereka menuangkan pemikiran filosofis menyangkut alam dan segenap isinya, sehingga menjadikan mereka sebagai filsuf-filsuf yang nantinya kan melahirkan berbagai macam pengetahuan ilmu.

· Abad pertengahan (1-9 M)

Periode ini ditandai dengan kemunculan pemikir Kristen yang mendasarkan pengetahuan secara teologis bahwa landasan utama pengetahuan adalah agama. Sementara di arab, setelah turunnya islam, kebudayaan dan para filsufnya banyak mewarisi karya Yunani Kuno.

· Abad Renaisans (10-15 M)

Renaisans berarati kelahiran kembali, yakni dengan dihidupkannya pemikiran Yunani dan Romawi. Pada periode ini, dominasi Gereja atas pengetahuan semakin berani ditentang manusia, manusia secara bebas mempertanyakan segala sesuatu di luar kerangka piker Gereja, bahkan dalam mempertanyakankeberadaan Tuhan itu sendiri. Di periode ini pula keingintahuan untuk mempelajari pengetahuan ilmu yang empiris tidak lagi berdasarkan mistis, toelogis, atau rasio semata ala filsafat mulai bertumbuh.

· Abad Pencerahan (Abad ke 16-18 M)

Periode ini merupakan kelanjutan masa Renaisans, di mana kemampuan akal manusia diaktualisasi dengan kelahiran dan kemudian kematangan rumpun ilmu-ilmu alam sebagai ilmu empiris, yang dalam upaya mencari kebenaran didukung dengan berbagai percobaan atau eksperimen berdasarkan pola akademis imiah, melahirkan kaum intelektual dari berbagai Universitas di Eropa.

· Abad Moderen (abad ke 19- sekarang)

Periode ini ditandai dengan kemajuan pengetahuan ilmu yang sangat pesat, bukan hanya ilmu-ilmu alam tapi juga ilmu-ilmu social. Filsafat yang otonom. Di periode ini pula metodologi dan pendekatan baru dalam ilmu-ilmu social di mana komunikasi berada di dalamnya berkembang menjadi jati diri, antipositivist.

2. Paradigma Dasar Keilmuan

Paradigma ilmu adalah cara pandang seseorang terhadap diri dan lingkungan keilmuan yang akan mempengaruhi dalam berpikir, bersikap, dan bertingkah laku dalam upaya mencari dan menemukan pengetahuan ilmu dan kebenaran. Dua dasar utama paradigma ilmu yairu Rasionalisme dan Empirisme.

A. Rasionalisme

Ini merupakan paham yang menekankan rasio atau kerja akal yang disebut logika sebagai sumder utama pengetahuan manusia. Akal merupakan otoritas terakhir dalam menentukan kebenaran. Pada masa awal pertumbuhannya rasionalisme terlahir sebagai cara mendapatkan pengetahuan sebagai upaya menepis keabsahan mitos dan menggantinya dengan logos. Singkatnya, rasionalisme menyatakan, sumber pengetahuan manusia adalah rasio, dan dirinyalah didapatkan kebenaran objektif. Bagi rasionalisme, cara berpikir ideal guna membangun pengetahuan adalah melakukan kesimpulan akhir secara deduktif.

B. Empirisme

Berasal dari kata Yunani: emperia, berarti pengalaman, dan karenanya empirisme dapat diartikan sebagai paham yang menekankan pengalaman sebagai sumber pengetahuan. Bagi empirisme pengalaman adalah pemegang otoritas terakhir dalam mendapatkan pengetahuan dan menentukan kebenaran. Pemikiran Bacon tertuang dalam Novum Organum(Organum Baru) yang maksudnya sebagai pengganti Organum Aristoteles, berisi tawaran tentang perangkat baru dalam penyelidikan ilmiah, membuat Bacon disebut perintis filsafat ilmu.

Tokoh lain dari empirise adalah Jhon Locke. Dia mengakui, manusia memilki dua ide utama; yaitu ide sederhana dan ide komplekssebagai refleksi terhadap ide-ide sederhana hingga membentuk pengetahuan tentang dunia. Selain Locke, yang sangat berpengaruh terhadap empirisme adalah David Hume. Hume mengakui bahwa selain data-data indrawi juga terdapat data-data ide, sebagai berikut: Pengetahuan berdasarkan relasi ide. Pengetahuan ini tidak tergantung semesta luar, melainkan operasi akal atau rasio semata. Pengetahuan factual. Pengetahuan ini mutlak didasari oleh fakta, bukan sekedar relasi ide. Akal tidak dapat memastikan kebenaran tanpa pengalaman empiric sensual. Jadi, pengetahuan seperti ini bersifat induktif dan aposteriori, datang setelah pengalaman.

3. Paradigma Penelitian Dan Metodologi Keilmuan

Terdapat beberapa turunan perspektif yang sangat berpengaruh dalam mencari dan menemukan pengetahuan ilmu, utamanya yang terkait dengan ilmu komunukasi, yakni positivism dan antipositivisme. Cara mencari dan menemukan pengetahuan disebut metode, yang dilaksanakan dengan melakukan penelitian. Kajian tentang metode penelitian disebut metodologi. Secara etimologis, “metologi” berasal dari kata yunani: metodos(cara) dan logos(kata, ilmu, atau teori). Dari paradigma ilmu, diturunkan paradigma penelitian dan metodologi ilmu.

A. Positivisme

Positivisme lahir sebagai evolusi lanjut dari empirisme. Paham ini meyakini, semester hadir melalui data empiric sensual tertangkap indra. Ajaran positivist menyatakan, puncak pengetahuan manusia adalah ilmu yang dibangun bedasarkan fakta empiric sensual: teramati, terukur, teruji, terulang dan teramalkan. Sikap dasar positivisme menyatakan masyarakat akan mengalami kemajuan apabila mengadopsi total pendekatan ilmu. Menurut Comte, alam pikir manusia berkembang dalam tiga tahap: teologik, metafisik dan positif. Positivisme meletakkan dasar pengetahuan hanya pada fakta objektiv yang positif. Positivme berpendapat bahwa pengetahuan ilmu menganut tiga prinsip utama: empiris-objektif, deduktif-nomologis, serta instrumental-bebas nilai. Intinya, positivisme logis menegaskan bahwa pengetahuan ilmu-ilmu harus berawal dari pengamatan empiris, dan bahwa puncak pengetahuan manusia adalah ilmu yang disusun berdasarkan fakta yang terukur dan teramati.

B. Antipositivisme

Antipositivist sebagai kritik atas positivme sebagaimana di bahwa khun bekembang kemudian para bidang ilmu-ilmu social. Positivisme dianggap lemah dalam membangun konsep teoriteka. Ilmu-ilmu sosial yang dikembangkan dengan paradigma positivistic menjadi semakin miskin konseptualisasi teoretik, tidak ada teori-teori baru yang mendasar- yang muncul adalah penelitian yang berawal dari kerangka teori kemudian menurunkan sejumlah hipotesis guna teruji benar atau teruji salah-terus berputar, membuat banyak ilmu sosial mengalami stagnasi.

C. Interpretivisme

Interpretivisme merupakan perspektif teori dalam konstruksitivisme. Bagi aliran ini, positivisme keliru dan karenanya harus ditinggalkan dan diganti dengan konstruktif. Interpretivisme antara lain menurunkan metodologi penelitian yang dinamakan grounded theory. Metodologi lainnya adalah fenomenologi dengan tokohnya, antara lain, Edmund Husserl. Fenomenologi melihat objek dari ilmu-ilmu sosial meliputi segala sesuatu yang termasuk ke dalam aspek metodologis yang dapat disimpulkan sebagai kesamaan umum atas segala varian dan sub-varian antipositivist ini adalah bahwa:

Ø Bagi mereka realiytas bersifat sosial dan majemuk.

Ø Subjek dan objek merupakan kesatuan interaksi dan karenanya penelitian mutlak dilakukan di luar labolatorium.

Ontologis, interpretivisme menuntut pendekatan holistik menyeluruh: mengamati

objek dalam konteks keseluruhan, tidak dipartisiakan, yidak dieliminasi dalam variabel-variabel guna mendapatkan pemahaman lengkap apa adanya, karna objek tidak mekanistis melainkan humanistis

.

D. Teori Kritis

Teori kritis berupaya memberi dasar pada ilmu-ilmu social. Teori kritis merupakan paham yang dilahirkan para filsuf yang tergabung dalam MazhabFrankfurt, Jerman. Hakikatnya, paham ini lebih tepat disebut sebagai cara pandang terhadap suatu realitas dengan berorientasi pada ideologi tertentu.

Ontologis, teori kritis melihat berbagai objek melekat pada subjeknya dan karernanya harus dipandang secara kritis. Bagi teori kritis, ilmu memang diciptakan untuk memihak keadaan, kelompok, atau individu tertentu sesuai yang disukai penggagasnya. Artinya, yang dikerjakan adalah ilmu yang ideografik.

4. Penelitian Kuantatif Dan Kualitatif

Penelitian kuantatif adalah jenis penelitian yang membangun pengetahuan dan memperoleh kebenaran berdasarkan data-data terukur. Artinya, data harus dikumpulkan, diolah, dianalisis dalam bentuk angka-angka, dan lebih mencari kebenaran melalui logika matematika dan statistika. Sebaliknya, penelitian kualitatif menghindar perhitungan matematis dan terukur, yang dicari adalah value atau nilai yng muncul dari objek kajian yang bersifat khusus; bahkan sangat spesifik, unik, mengandung tindakan bermakna (meaning full action), dan karenanyalebih menggunkan logika bahasa sebagai sarana berpikir ilmiah.

5. Metode Penelitian Komunikasi: Kuantitatif-Positivis Vs Kualitatif- Interpretif.

Dalam khasanah ilmu komunikasi dewasa ini, pendekatan kuantitatif-positivist masih lebih dominan dari pada pendekatan kualitatif-interpretif. Pendekatan kuantitatif yang sering menggunakan statistik, diindikasikan oleh Muhadjirn (2000:7-8), seolah lebih bergengsi daripada pendekatan kualitatif. Meski demikian, pendekatan kualitatif dalam ilmu komunikasi terus berkembang dan penganutnya terus bertambah.

a. Paradigma Penelitian Komunikasi

Pendekatan kuantitatif pada dasarnya lahir dan berkembang dari tradisi ilmu-ilmu sosial Inggis dan Prancis yang dipengaruhi tradisi ilmu-ilmu alam. Dari sini lahir dan berkembang ilmu sosial dengan latar positivisme yang mengendapkan penelitian kuantitatif untuk menjelaskan fenomena sosial. Sebaliknya, penelitian kualitatif lahir dan berkembang dari ilmu-ilmu sosial Jerman. Dari sini dalam memahami fenomena sosial itu, berkembang dengan latar interpretivisme yang mengedepankan pendekatan kualitatif: mencoba menginterpretasikan gejala, menguak makna di balik fakta yang empirik sensual.

Penelitian komunikasi kuantitatif-positivist dan kualitatif-interpretif berbeda pada tingkat paradigma filsafat ilmu dan karenanya menurun pada aspek metodologis. Pada penelitian komunikasi kuantitatif, dikenal berbagai istilah kunci yang melekat. Antara lain: variabel, validitas, reliabilitas, objektivitas dan sebagiannya bisa disebut idiom-idiom “jati diri” yang khas dipunyai oleh penelitian kuantitatif.

Idiom khas yang mencerminkan esensial sesuai hakikat penelitian kualitatif antara lain tercermin pada penggunaan istilah informan atau sumber informasi, kredibilitas sumber, transferabilitas, dan lainnya.

b. Metode Penelitian Komunikasi Kuantitatif-Positivist

Dua metode penelitian yang sangat populer dalam kuantitatif-positivist adalah eksperiment dan survei. Dalam survei, informasi dikumpulkan dari responden dengan menggunakan kuesoiner, dan data dikumpulkan dari sampel yang mewakil populasi. Apabila sampel diambil dari seluruh populasi, ia disebut sensus. Oleh karena itu survei didefinisikan sebagai penelitian yang mengambil sampel dari segala populasi dengan menggunakan kuasionersabagai alat pengumpul data yang pokok.

c. Metode Penelitian Komunikasi Kualitatif-Interpretif.

Dalam ilmu-ilmu sosial, Taylor dan Bogdan(1984) mendefinisikan metode kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan dara deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang dari gejala yang diamati.

Berikut ini idiom-idiom utama dari penelitian kualitatif yang diurai oleh Meleong(2000):

Ø Pembatasan masalah melalui fokus. Penelitian kualitatif, menghendaki ditetapkannya batas dalam penelitian sebagai upaya membatasi permasalahan agar tidak melebar terlalu luas sehingga tidak fokus.

Ø Masalah adalah suatu keadaan yang bersumber dari hubungan antar dua faktor atau lebih yang menghasilkan situasi membingungkan.

Ø Sumber data / informasi. Dalam penelitian kualitatif lebih kepada menjaring sebanyak mungkin informasi berbagai sumber dan bangunannya dan menggali informasi yang akan menjadi dasar dari rancangan atau teori yang muncul.

Ø Keabsahan Data. Keabsahan data merupakan konsep penting yang diperbarui dari konsep positivisme: kesalina serta keandalan.

Ø Ontologi. Penelitian komunikasi kualitatif-interpretif, fenomena atau realitas dilihat dalam konteks natural apa adanya.

Ø Epistemologi.Penelitian komunikasi kualitatif-interpretif, karena mendudukkan objek dalam konteks naturalnya, menuntut menyatukan subjek penelitian dengan objek penelitiannya.

Ø Aksiologi. Penelitian komunikasi kualitatif-interpretif, ilmu tidak bebas nilai. Tujuan penelitian adalah membangun ilmu secara ideografik.

Aksiologi

Aksiologi merupakan cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya. Aksiologi berasal dari kata aksion yang berarti: nilai. Dalam konteks ini, yang dimaksud adalah pilihan nilai kebeaikan atau keburukan atas penggunaan ilmu komunikasi.

1. Konsep Dasar Etika

Ø Etika dan Moral

Etimologis, etika berasal dari kata yunani:ta etha, yakni bentuk jamak dan ethos, berarti adat kebiasaan. Dari kata ini istilah etika yang oleh Aristoteles dipakai untuk menunjukan filsafat moral. Kata “moral” berasal dari kata latin: mos (jamak: mores), yang berarti kebiasaan, adat. Jadi etismologi, kata “etika” sama dengan kata “moral”, keduanya berarti adat kebiasaan.

Ø Tindakan Sengaja

Manusia dinilai oleh manusua lain melalui tindakannya. Tindakan seorang manusia sangat beragam. Dalam kaca mata etika, tanpa sengaja tidak ada penilaian baik-buruk. Kesengajaan menuntut adanya pilihan, berarti adanya penentuan dari pihak manusiauntuk memilih, bertindak atau tidak bertindak. Terdapat dua aliran filsafat menyangkut kehendak bebas, yakni (a) determinisme yang tidak mengakui adanya kehendak bebas dan (b) antideterminisme yang mengakui adanya kehendak bebas.

Ø Determinisme : Tidak ada kehendak bebas

Aliran ini menyatakan tidak ada kehendak bebas, segalanya telah ditentukan: setiap materi alam harus tunduk pada hukum alam. Dalam agama, berkembang determinisme religius. Dalam psikologi, terdapat tiga teori determinisme yang diterima secera luas, sendiri- sendiri atau kombinasi, untuk menjelaskan sifat manusia. Determinisme genetis menyatakan, kakek-kakek andalah yang berbuat demikian terhadap anda. Determininme psikis menyatakan, anda seperti ini karena begitulah orang tua anda mendidik sejak kecil dulu. Determinisme lingkungan menyatakan, anda seperti sekarang ini karena lingkungan anda. Anda tinggal di kalangan penyamun maka jadilah anda seorang penyamun.

Ø Antideterminisme : Adanya kehendak bebas

Antideterminisme menyatakan atau mengakui adanya kehendak bebas. Walau pada dasarnya memiliki kehendak bebas, manusia tetap dapat melakukan pilihan atas tindakannya. Antideterminisme juga dapat dilihat pada Herbert Blumer yang menurunkan pemikiran simbolik interaksional. Menurut Blumer manusia bukan semata-semata organisme yang bergerak di bawah pengaruh stimulus, baik dari dalam maupun dari luar, melainkan organisme yang sadar akan dirinya. Dengan diakuinya kehendak bebas, berarti ada kesenjangan. Walau tidak selalu dapat menunjukan batas-batas dengan mudah, kita dapat membedakan tindakan yang disengaja dan yang tidak.

Ø Tindakan Moral

Banyak perbuatan manusia terkait dengan tindakan baik dan buruk, tapi tidak semua tindakan adalah terkait baik dan buruk dari segi etika. Tindakan moral adalah perbuatan manusia yang dilakukan dengan sengaja dan terkait dengan penilaian baik dan buruk. Sejauh ini manusia dapat menentukan tindakannya, ia dapat memilih tindakannya. Namun, yang dinilai etika hanya tindakan yang terkait moral, dan disebut sebagai tindakan moral.

Ø Hak dan kewajiban

Dengan adanya kehendak bebas, muncullah persoalan hak yang akan selalu terkait dengan kewajiban. Dalam tataran negara, hak individu selalu dipertentangkan dengan hak masyarakat. Dalam berbagai situasi dalam kehidupan, hak satu pihak selalu dipertentangkan dengan hak pihak lainnya. Demikian pula dengan kewajiban yang satu dipertentangkan dengan kewajiban pihak lain. Bahkan antara hak dan kewajiban itu sendiri saling bertentangan satu dengan yang lainnya.

Ø Undang – undang dan kode etik

Untuk mengatur hak dan kewajiban serta kebebasan dan tanggung jawab, disusunlah hukum tertulis, sehingga jelas apa yang boleh dan tidak boleh. Hukum tertulis disebut undang-undang.

2. Aliran – Aliran Filsafat Moral

Ø Hedonisme

Dewasa ini, hedonisme berkembangdan dimaknai sebagai paham yang menyatakan tindakan baik ialah yang bisa mendatangkan hodone: kenikmatan, kesenangan, dan kepuasan rasa. Dalam pengertian hedonisme telah melenceng dari ajaran awalnya dan lebih dimaknai sebagai individu yang mementingkan kesenangan fisik duniawi. Menurut K.Bertens, hedonisme adalah individualisme yang egoitis karna mementingkan diri sendiri.

Ø Eudomonisme

Dalam kegiatannya, demikian Aristoteles, setiap manusia mengejar tujuan akhir dan terbaik bagi hidupnya, yaitu kebahagian: eudaemonia. Dari sinilah akar kata eudominisme. Aristoteles berpendapat, terdapat dua keutamaan manusia dibandingkan makhluk lain, yaitu keutamaan intelektual dan keutamaan moral.

Ø Utilitarisme

Bagi Utilitarisme, yang baik utilis: berguna. Utilitarisme berada pada tataran masyarakat atau negara. Dalam perkembangan utilitarisme dewasa ini, Poedjawijatna mencatat, suatu perbuatan dapat dimaknai baik jika menghasilkan kebahagiaan terbesar bagi semua orang. Sementara K. Bertens mengingatkan, prinsip utilitarisme dewasa ini tidak memberi jaminan bahwa kebahagiaan dibagi dengan adil.

Ø Religiosisme

Aliran ini berpendapat tindakan baik adalah yang sesuai dengan kehendak Tuhan, dan yang buruk adalah yang bertentangan dengan kehendak-Nya. Adalah tugas teologi untuk menetapkan yang baik dan buruk. Masalahnya, sesuai kodratnya, tidak semua manusia religius. Atau, ia religius hanya pada salah satu bidang kehidupan saja, sementara bidang kehidupan seseorang sangat beragam.

3. Dilema Yang Kekal

Tindak komunikasi dimaknai sebagai perbuatan manusia yang dilakukan dalam usaha menyampaikan pesan untuk mewujudkan motif komunikasi. Motif komunikasi timbul manakala manusia berusahamewujudkan konsepsi kebahagiaan pada salah satu bidang kehidupan.

Tiga Persoalan Pokok

Dalam mengupas falsafah hidup manusia, sebagaimana diutarakan dapat diidentifikasikan tiga perosalan pokok yang coba dijawab yaitu:

1. Di mana kebahagian itu diraih? Di dunia? Ataukah keseimbangan antara dunia akhirat?

2. Apa yang dapat memberi kebahagian itu? Sesuatu yang bersifat material? Atau spiritual? Ataukah keseimbangan antara material dan spiritual?

3. Siapa yang akan didahulukan dalam meraih kebahagiaan itu? Individu ? atau masyarakat? Atau keseimbangan antara individu dan masyarakat?

4. Akar Tindak Komunikasi Falsafah Hidup

Pambahasan sejauh ini menyimpulkan bahwa, pertama, penilaian moral hanya terkait pada tindakan sengaja yang didukung oleh adanya kehendak bebas. Kedua, bahwa akar tindak komunikasi adalah falsafah hidup. Karena itu untuk memahami tindak komunikasi yang dilakukan manusia adalah dengan melihat pada akarnya: falsafah hidup yang dianut, yang hanya dilihat pada tiga kelompok yang ingin dijawabnya, yakni di mana, apa ,siapa.

· Tataran Pribadi

Pada saat individu manuasia mencari dan berusaha menemukan kebahagiaan ia menghadapi tiga persoalan pokok. Hal ini membedakan individu yang satu dengan yang lainnya. Jawaban atas tiga soal pokok merupakan falsafah hidup manusia yang bersangkutan. Hoeta Soehoet mengidentifikasikan adanya 27 variasi dari jawaban.

· Tataran Organisasi

Dalam tataran ini, visi dan misi organisasi akan menentukan tindak komunikasi dari organisasi besreta seluruh individu yang berada dalam organisasi itu.

· Tataran Massa

Kumpulan individu dalam suatu wilayah membentuk msyarakat. Dan, kumpulan masyarakat dalam suatu wilayah tang berdaulat membentuk negara. Tugas negara adalah mengatur hak dan kewajiban individu warga negaranya. Dengan demikian, negara sebagai kumpulan individu pun memilki falsafah hidup.

Contoh Aplikasi: Empat Teori Pers

Berdasarkan penelitian Fred siebert, theododre peterson, dan wilbur, menyimpulkan sekurangnya terdapat empat teori pers yang diaplikasikan pada berbagai negara di dunia. Keempat teori itu adalah authoritarian, libertarian, social responsibility, dan soviet communist.

a. Authoritarian. Dalam sistem autoritarian, pers dijadikan pelayanan negara. Dalam hal ini bisa dinyatakan, “bandul pendulum falsafah hidup”mengarah kuat pada sisi masyarakat. Namun, tidak mungkin jika semua masyarakat memerintah. Maka terpilihlah sekolompok elit selaku perjalanan roda pemerintahan, diberi kuasa untuk mengatur individu anggota masyarakat.

b. Libertarian. Aliran ini lahir menentang sistem autoritarian. Dalam sistem libertarian, pers tidak tunduk kepada negara individu. Warganegara berikut institusi pers sepenuhnya memiliki hak menyatakan pendapat.

c. Soviet Communist. Pada kutub yang bertentangan dengan libertarian, adalah sistem komunal. Individu membentuk masyarakat komunal, dan inilah asal kata communist. Dalam sistae komunal yang sosialis, tidak ada hak individu karena yang diutamakan adalah hak masyarakat.

d. Social Responsbility. Social responsbility menyatakan bahwa kebebasan individu yang diberikan haruslah tidak ada batasnya. Batasnya adalah tanggung jawab sosial individu berikut institusi pers dalam menyatakan pendapat.

5. Apakah Ilmu Komunikasi Bebas Nilai?

Sebagian orang berpendapat bahwa imu harus bebas nilai, sementara sebagian lagi menyatakan bahwa ilmu terkait nilai. Keuntungan dari ilmu yang bebas nilai adalah tidak ada yang akan menghambat atau menghalangi manakala penelitian memilih dan menetapkan objek penelitian, cara meneliti, dan menggunakan pengetahuan serta produk hasil penelitian. Adapun kerugian utama jika menganggap ilmu bebas nilai, ada kemungkinan bertentangan dengan moralitas.

Ilmu komunikasi berada dakam rumpun ilmu sosial. Objek materialnya adalah tindakan manusia dalam konteks sosial. Dan, tindakan manusia tidak dapat tergantikan dengan “kerinci percobaan” begitu saja. Bagi ilmuan komunikasi penganut positivisme dalam pelaksanaannya moral penelitianlah yang akan menentukan jenis penelitian dan teknik penelitian yang dilakukan untuk memenuhi keingintahuan dalam membangun ilmunya. Sementara bagi ahli komunikasi berlatar interpretivisme, ilmu komunikasi sesuai kodratnya, jelas terkait nilai, ia tidak lepas dari nilai-nilai yang ada.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar